20.1.13

A+ is Useless

Dikasih tau temen yang seperjuangan (sama sama gak mau masuk SMA favorite tapi terjebak di SMP favorite) ada video hitam putih yang bagus.

Aku kelas 9. Iya bentar lagi UN.
Kenapa aku sekolah di SMP favorite tapi gamau masuk SMA favorite? Karena sewaktu kelas 7 aku belum punya tujuan hidup. Belum tau mau kemana.

Karena gak punya tujuan itu Ibu nyuruh aku jadi insinyurlah, dokterlah, ini itulah. Lama lama kesel sendiri, "ini hidupku kenapa dia yang ngatur?" Kebetulan deket deket perasaan kesel itu, tempat les ngadain konser, aku violinist di sebuah orchestra kecil yang dibuat guruku. Di saat konser itu, diatas panggung kecil itu, aku nemuin rasa yang nggak pernah aku dapet dalam mendalami suatu bidang. Rasanya itu seneng bukan main. Saat itu juga aku bilang ke diri sendiri "aku mau main musik." Just as like drugs addict, I couldn't life without drugs and my drugs is music. Aku gatau apa jadinya nanti kalo aku gak boleh lagi main musik.

Bulan bulan ini juga lagi perang hebat, perang fisik, perang batin, semuanya. Sampe temenku ini kirimin link video itu.

"A+ is useless" kata Dedi Corbuzer, pokoknya itu ya, gatau tulisan benernya.
"Pernahkah anda merasa bahwa anak anak yang dapat 8,9, 10 dulu di sekolah, ending endingnya menjadi ibu rumah tangga atau sekretaris yang hanya diam saja?"
Berkali kali juga aku bilang ke diriku sendiri, aku gamau jadi orang yang kerjanya cuma diem, duduk depan meja, dan ngetik. Itu sama sekali ngga ada enak enaknya, atau apalah itu yang kerjanya cuma depan meja, ngedata, ngitung, pokoknya kerjaan yang tidak menggunakan imajinasi tinggi. Sedangkan ibuku, nuntut aku untuk pinter di matematika. Seriously, I'm lag at math. Gapernah bisa gampang nyambung sama tuh pelajaran. Aku cuma bisa ngitung di Fisika. Yang memperparah keadaan lagi aku punya sepupu yang jago banget matematikanya, bahkan dia ikut olimpiade matematika nasional. Aku sama dia beda umur cuma 5 hari. Anaknya asik banget tapi jadi agak males ketemu dia, karena setelah dia pulang atau aku yang pulang, Ibu selalu bilang "tuh dia matematikanya jago banget. Kamu contoh tuh!" Sampe capek dengernya. Ibu juga nuntut aku untuk kerja dibidang yang menguasai pelajaran akademik, satu satunya pelajaran akademik yang kusuka cuma IPA, entah itu kimia, biologi, atau fisika. Tapi kalo liat di non-akademik, aku jauh lebih bagus. Nilai akademik di rapot kemaren, paling tinggi 88, rata rata 8 koma, sedangkan non akademik paling tinggi 94. Kenapa bedanya dikit? Selera seni orang Indonesia itu kebanyakan rendah. Gak percaya? Survey sendiri.

Bersyukur temen sempet nonton hitam putih episode itu. Aku bisa unjukin ke Ibu kalo semua yang dia tuntut ke aku itu salah. Iya, aku tau maksud dia bagus, mau liat anaknya sukses, tapi sukses bukan hanya dengan kita jadi dokter atau semacam itu. I'm going to be a succes, in my own way. I have already decide my future and there is no one who could change it. Mereka menganggap remeh pelajaran non-akademik, itu kenapa aku gak suka sama pelajaran di Indonesia. So, here is the long wise quotes from Dedi Corbuzer.

"A+ is useless. Pernahkan anda yang di usia saya, diatas saya atau dibawah saya merasakan bahwa anak-anak yang dulunya sangat amat pintar di sekolah kebanyakan tidak sukses di dalam hidup? Pernahkah anda merasa bahwa anak-anak yang dapat 8, 9, 10 dulu di sekolah ending-endingnya menjadi ibu rumah tangga atau sekretaris yang diam saja?. Guru mengajarkan muridnya dengan satu tujuan, untuk menjadi seperti guru tersebut. Guru matematika mengajarkan muridnya agar pintar matematika seperti gurunya. Guru geografi mengajarkan muridnya agar pintar geografi seperti gurunya. Coba dibalik, kita ambil guru geografi kita suruh dia mengerjakan tugas kimia, bisa tidak? Kita ambil guru kimia kita tanyakan peta buta, bisa tidak? Tidak bisa. Jadi guru guru itu sendiri padahal hanya mampu menguasai satu mata pelajaran, tapi anak-anaknya harus menguasai semua mata pelajaran. Kenapa anak-anak yang nilainya bagus pada saat di sekolah belum tentu menjadi orang sukses? Karena sekolah memberikan fakta. Anak-anak mempelajari sebuah fakta. Menghafalkan sebuah fakta. Anak-anak yang nilainya bagus adalah anak-anak yang pintar menghafal. Bukan anak-anak yang memiliki kreativitas yang tinggi. Kalau matematikanya jelek, seni rupanya bagus, anak-anak dilesin matematika, seni rupanya dilupakan. Yang jelek diuasahakn menjadi bagus, yang bagus dilupakan. Sedangkan anak-anak yang bisa sukses anak-anak yang menggunakan kreativitas dalam berpikirnya. Yang penting adalah sebagai orangtua, anda mengerti apa yang anak anda pikirkan. Apa yang anak anda benar-benar ingin pelajari. Bukan memaksakan semua pelajaran maauk ke dalam otaknya. It's impossible. Karena mungkin di sekolah bukan siapa-siapa tapi nanti mereka jadi seorang yang luar biasa"
"Tomorrow is my exam but I don't care. Because a single sheet of paper can't decide my future." -Thomas A. Edison

−あめ−

No comments:

Post a Comment